Nafasku
memburu. Dada terasa panas. Kakiku yang mulai sakit terus kupaksa berlari.
Sambil sesekali menyeka keringat yang membanjiri wajah, tak bosan-bosan aku
menyemangati diri sendiri. Ayo, ayo! Sedikit lagi sampai.
Aku hampir
lengah saat sosok bertubuh gempal menyalip dengan santai. Si Langit dengan pipi
gembulnya itu masih sempat-sempatnya menengok ke arahku sambil melempar senyum
topeng yang seolah berkata "Daaah, duluan ya!"
Aku
terpancing. Aku tidak boleh kalah. Egoku memuncak merobek langit.
Aku berusaha
memacu energi lebih keras lagi. Kakiku mulai terasa kebas. Nafasku terasa
sesak, sangat sesak. Tapi.. aku tidak boleh berhenti. Aku harus terus lari..
lari.. la..
"Hai
Rin, kamu enggak apa-apa?"
Suara
lembut dan tepukan pelan di punggungku membuatku kembali sadar. Baru saja
pikiranku mendadak buyar dan pandanganku kabur. Nyaris pingsan. Aku terduduk di
pinggiran arena.
"Ah..
Iya. Enggak apa apa." Ucapku berbohong. Sambil mencoba mengatur nafas,
perlahan pandanganku kembali normal.
Tanpa aba
aba, gadis tadi ikut mengambil posisi duduk di sampingku,
"Ayo,
luruskan kaki dulu." Katanya dengan lembut.
Secara
refleks, akupun meluruskan kaki. Aku sibuk mengatur nafas dan tak sempat
menanggapinya. Aku harus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian kembali berlari.
Ah sial! Sekarang aku tertinggal semakin jauh.
"Memangnya
mau kemana sih, Rin?" Tanya gadis itu tiba-tiba.
"Garis
A125." Tukasku. Nafasku perlahan kembali teratur, sayangnya kram di kaki
nampaknya masih belum mau hilang.
"Kenapa?"
Tanyanya sambil memijit pelan pundakku.
"Hah?"
Aku balik bertanya. Tidak paham apa yang dia maksud.
"Kenapa
kamu mau kesana?"
Kenapa?
Aku terdiam sejenak.
Pertanyaan
aneh! Dia tanya "kenapa"? Sudah jelas semua orang juga sedang berlari
kesana dan aku tidak mau tertinggal di belakang.
Sementara
itu, gadis ini terus menatapku seolah menagih jawaban.
"Enggak
tahu. Semua orang juga sedang berlomba untuk sampai kesana, kan?" jawabku
tegas tanpa sedikitpun memandang ke arahnya. Aish! sepertinya aku sudah terlalu
banyak membuang waktu.
Aku
merasakan pijitan di pundakku berhenti. Bersamaan dengan itu, aku merasa
sedikit lebih baik. Sepertinya tubuhku sudah bisa diajak kompromi.
"Aku
mau lanjut lari. Kamu juga, jangan cuma bersantai disitu." Aku beranjak
berdiri. Kakiku masih gemetar, tapi sepertinya akan baik-baik saja.
"Sebentar lagi rombongan lain bakal datang menyalip, kamu bisa
tertinggal." Aku menyampaikan sedikit kepedulian atas kebaikannya padaku
tadi.
Saat aku
hendak mulai mengambil langkah kaki, aku baru sadar kalau gadis antah berantah
itu tampak aneh. Ia tidak terlihat berkeringat, tidak jua terlihat kelelahan,
dan tunggu dia memanggilku apa tadi - Rin?!
Darimana
dia tahu sebutan tadi, cuma Ibuku yang memanggilku dengan nama "Rin".
Siapa
sebenarnya gadis itu?
Siapa
sesungguhnya gadis itu?
Baiklah,
kali ini aku membiarkan rasa ingin tahuku menang. Aku berbalik kembali ke
arahnya.
"Ngomong-ngomong
bagaimana kamu bisa-"
"Rin,
kalau kamu sudah sampai di garis tujuanmu, kamu mau apa?" potong gadis
itu. Ia masih dalam posisi duduk yang sama seperti tadi.
Aku tidak
menanggapi.
"Kalau
kamu mati sebelum sampai pada garis tujuan, apa kamu yakin ambisi dan tekadmu
itu bisa menjadi bekal perjalanan panjang setelah kematian?" Kali ini
gadis itu beranjak berdiri dan mendekat selangkah ke tempat dimana aku berdiri.
Aku
mematung.. mencerna pertanyaan beruntun itu. Beberapa orang tampak berlari
kencang melewatiku. Tapi aku sedang tak peduli! Otakku terlalu sibuk berpikir.
Seolah
mampu membaca pikiranku, ia melanjutkan, "Aku bukan siapa-siapa, Rin.
Anggap saja.. aku bagian dari dirimu yang tak pernah ingin berkompetisi dengan
orang lain. Tempat ini bukan turnamen lari untuk melihat dan membandingkan
siapa lebih cepat, tangkas, dan sukses menurut apa kata orang."
Kini dia
tepat berada di hadapanku. Jarak kami dekat sekali. Tapi... aku masih saja
mematung. Semakin banyak hal berkeliaran di pikiranku. Dan tunggu... dia bilang
ini bukan pertandingan?
"Mengapa
mesti berkompetisi dengan orang lain, Rin? Kalau kamu bisa bertanding dengan
dirimu sendiri? Kamu bisa berkompetisi dengan egomu yang setinggi langit itu,
kamu bisa berkompetisi dengan prokrastinasimu, dan banyak lagi."
Lengang.
Perasaanku
bercampur aduk. Aku ingin segera pergi.. dan menyendiri.
Seketika
gadis itu tersenyum manis dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar aku
pergi melanjutkan perjalanan. Akupun segera berbalik. Mulai berjalan
meninggalkan gadis antah berantah itu.
Dalam hati,
untuk pertama kalinya aku mengakui satu kebenaran...
Selama ini,
aku telah berlari tanpa tahu arah.
Setelah ini akan kemana aku melangkah?
Posting Komentar
Posting Komentar